Teheran – Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memperingatkan bahwa setiap unjuk rasa baru terhadap pemerintah akan ditanggapi dengan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan tindakan keras terhadap protes anti-pemerintah yang terjadi pada Januari lalu, yang mengakibatkan ribuan korban jiwa. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan setelah perang singkat antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Musuh jahat, yang gagal mencapai tujuan pertempuran di lapangan, sekali lagi berupaya menanamkan rasa takut dan mengobarkan kerusuhan jalanan,” demikian pernyataan IRGC yang disiarkan oleh televisi pemerintah pada hari Jumat, 13 Maret 2026, sebagaimana dilaporkan oleh Deutsche Welle. IRGC menjanjikan “pukulan yang lebih keras daripada pada 8 Januari lalu” jika terjadi kerusuhan baru.
Peringatan keras ini dikeluarkan dua pekan setelah konflik antara Iran dan AS-Israel mereda. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa salah satu tujuannya adalah “menciptakan, bagi rakyat Iran, kondisi untuk menjatuhkan” pemerintah Iran, sementara Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka.
Protes besar-besaran di Iran dimulai pada Desember 2025, awalnya dipicu oleh kenaikan biaya hidup. Namun, demonstrasi tersebut dengan cepat berkembang menjadi gerakan protes yang lebih luas terhadap pemerintah Teheran. Puncaknya terjadi pada 8 Januari 2026, yang oleh pemerintah Iran disebut sebagai “kerusuhan” yang didalangi oleh “teroris” yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat.
Korban Jiwa dan Tudingan Kekerasan
Jumlah korban jiwa selama protes tersebut menjadi sumber perselisihan. Pemerintah Iran melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas, dengan klaim bahwa sebagian besar korban adalah personel keamanan atau warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam demonstrasi. Namun, kelompok hak asasi manusia internasional membantah angka tersebut, dengan Kompas.com melaporkan bahwa Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di AS, mencatat lebih dari 7.000 kematian selama protes antipemerintah.
Kelompok hak asasi manusia menuduh pasukan keamanan Iran sengaja menembaki para demonstran. IRGC, yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memainkan peran sentral dalam penindasan protes, dengan pasukan relawan Basij, sayap paramiliter IRGC, menjadi ujung tombak penumpasan aksi massa.
Pelabelan IRGC Sebagai Organisasi Teroris
Pada akhir Januari 2026, Uni Eropa secara resmi menetapkan IRGC sebagai “organisasi teroris” sebagai tanggapan atas tindakan keras terhadap demonstran. Keputusan ini, yang dilaporkan oleh Beritasatu.com, dipicu oleh kekhawatiran atas nasib tahanan Eropa di penjara Iran. Meskipun bersifat simbolis, langkah ini memiliki makna politik yang signifikan dan menempatkan IRGC sejajar dengan kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaeda, Hamas, dan ISIS.
Konflik Regional dan Respons Iran
Peringatan IRGC datang setelah periode konflik yang meningkat dengan Israel dan Amerika Serikat. Pada Februari 2026, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal balistik yang menghantam kapal perusak AS di Samudra Hindia, ratusan kilometer dari perbatasan Iran, sebagaimana dilaporkan oleh DetikNews. Klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Selain itu, IRGC sebelumnya menuduh kelompok teroris sebagai dalang kerusuhan yang meluas di Iran, menuduh mereka menyerang pangkalan militer dan aparat penegak hukum, sebagaimana dilaporkan oleh Kumparan. Pemerintah Iran telah mengisyaratkan akan memperketat penindakan terhadap demonstrasi anti-pemerintah.
Ke depan, kemungkinan terjadinya unjuk rasa lebih lanjut di Iran tetap menjadi perhatian utama. Peringatan IRGC menunjukkan bahwa pemerintah bersedia menggunakan kekuatan yang signifikan untuk menekan perbedaan pendapat, yang berpotensi memicu siklus kekerasan dan ketidakstabilan lebih lanjut. Situasi ini akan terus dipantau dengan cermat oleh komunitas internasional, mengingat implikasinya terhadap stabilitas regional dan hak asasi manusia.
Bagaimana perkembangan situasi di Iran akan memengaruhi dinamika kekuatan regional dan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan tetap menjadi pertanyaan penting. Silakan bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah ini.