Korea Utara meluncurkan sebuah rudal balistik ke arah Laut Timur pada Sabtu pagi (3/10/2026), beberapa hari setelah Korea Selatan menuntut permintaan maaf atas ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang melukai tiga prajurit, demikian laporan detikNews. Peluncuran dari wilayah Wonsan tersebut menempuh jarak lebih dari 700 kilometer.
Eskalasi Perbatasan dan Saling Bantah di DMZ
Ketegangan di semenanjung Korea meningkat tajam menyusul insiden ledakan bulan lalu di dalam zona penyangga DMZ yang memisahkan kedua Korea sejak gencatan senjata tahun 1953. Kepala Staf Gabungan Seoul menyatakan bahwa militer Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang mempertahankan postur pertahanan yang tangguh melalui pertukaran informasi yang erat. Penyelidikan yang dilakukan oleh Seoul bersama Komando PBB pimpinan AS menyimpulkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh ranjau yang dipasang oleh Korea Utara di sisi selatan perbatasan.
Namun, Pyongyang menolak keras temuan tersebut. Korea Utara membantah bertanggung jawab atas insiden yang melukai tiga personel militer tersebut, termasuk dua prajurit Korsel.
Upaya penutupan perbatasan secara permanen telah digalakkan oleh Pyongyang sejak Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai ‘musuh utama’ pada tahun 2024. Militer Korea Utara memasang ranjau serta membangun rintangan anti-tank di sepanjang garis perbatasan sebagai bagian dari kebijakan pemisahan total tersebut.
Tawaran Perundingan dan Respons Keras Pyongyang
Sebelum insiden peluncuran rudal balistik ini, Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young sempat mengusulkan perundingan langsung dengan Korea Utara terkait isu perbatasan. Sebagaimana dilaporkan oleh ANTARA News, Chung menyatakan bahwa akar permasalahan terletak pada garis gencatan senjata dan mengusulkan agar kedua belah pihak segera bertemu untuk memverifikasi serta melakukan survei ulang terhadap Garis Demarkasi Militer (MDL).

Akan tetapi, upaya diplomatik dari pemerintahan Presiden Lee Jae Myung yang berhaluan pasifis ini langsung dimentahkan oleh Pyongyang. Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara, merespons tuntutan Seoul dengan melontarkan kritik tajam. Kim Yo Jong menyebut Seoul ‘sangat hina’ dan menepis tawaran dialog tersebut sebagai ‘puncak lelucon yang patut ditonton semua orang’, seraya menilai tuntutan permintaan maaf dari militer Korsel sebagai hal yang ‘sangat konyol’.

Berikut adalah ringkasan perkembangan insiden keamanan di perbatasan antar-Korea:
| Tanggal / Waktu | Peristiwa Utama | Pihak Terlibat |
|---|---|---|
| Akhir September 2026 | Ledakan ranjau di DMZ melukai tiga personel militer Korsel. | Korsel, Komando PBB, Korea Utara |
| Jumat, 2 Oktober 2026 | Menteri Unifikasi Korsel mengusulkan perundingan garis perbatasan. | Chung Dong-young (Korsel) |
| Sabtu, 3 Oktober 2026 | Korut meluncurkan rudal balistik sejauh 700 km dari Wonsan ke Laut Timur. | Korea Utara, Korsel, AS, Jepang |
Kim Yo Jong menegaskan bahwa Pyongyang tetap siaga penuh untuk menghadapi segala langkah yang mungkin diambil oleh Seoul menyusul ketegangan ranjau dan uji coba rudal tersebut.
- Illinois Tool Works Stock Rises After-Hours Following Raised 2026 Guidance
- Two Iranian Men Charged Over Alleged Terror Plot Targeting Manchester’s Jewish Community
- Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Setelah Seoul Tuntut Maaf (newsy-today.com)
- North Korea Launches Ballistic Missile Following DMZ Landmine Dispute (archynewsy.com)